Pemuda-pemudi
Yang belum tahu rasa
Nikmatnya ngantri di wartel
Nikmat nya surat menyurat karena belum
Ada teknologi
Yang disangka hilang
Mereka kembali berdiri
Di antara nafas bumi
Yang kian meregang
Mengusap harap
Yang amat lembap
Keringat yang menguap
Disergap tanggung jawab
Cemas yang bergegas
Lekas yang ingin tuntas
Melipat bumi yang semakin riuh
Harus pake kartu dan teknologi
Sekarat yang tak ingin tamat
Kisah yang dikutuk
Penduduk kian mabuk
Pemuda pemudi
Yang disangka hilang
Berjanji tak kan pergi
Membenamkan luka-luka
Di dada sejarah
Membuat catatan
Di akhir halaman
Oh zaman sekarang sudah berubah
Karena sibuk melihat hp
Jadi lupa ngobrol dan bersosialisasi
/>
Posting Komentar